SIAPA AKU ?
Namaku Nova Putri Diana, aku biasa dipanggil Nova. Aku lahir di
Tulungagung pada tanggal 19 November
1998, aku adalah anak tunggal. Olahraga favoritku badminton meskipun aku tidak
jago bermain tapi aku tetap suka dan
olahraga yang paling tidak aku suka adalah voli, trauma masa lalu yang
membuatku membencinya. Aku paling suka makanan nasi goreng apalagi buatan
bapakku, tidak ada makanan yang bisa menandingi nikmatnya masakan ibu dan
bapakku.
Pengalaman akademikku. Dari PAUD sampai SMA semuanya ditempat yang
sama, PAUD ( Pendidikan Anak Usia Dini ) aku angkatan pertama pada saat itu aku
mulai masuk PAUD saat itu berusia 3,5 tahun, tidak banyak pengalaman yang aku
dapat dari sana, meskipun ada, mungkin aku tidak mengingatnya. Setelah itu aku melanjutkan ke TK PSM Tanen,
tidak jauh dari tempat sekolahku dulu bahkan berhadapan, perjalanan taman-taman
kanak-kanakku sangat membingungkan karena ditengah-tengah proses tahun
pengajaran aku harus pindah di RA PSM Tanen, entah apa yang membuatku harus pindah
kesana, namun setelah beberapa waktu aku harus kembali ke sekolah lamaku, di TK
PSM Tanen, yang aku ingat dari masa taman kanak-kanak saat itu, aku menjadi
seorang anak yang pendiam dan menjadi bahan bulliyan, namun bulliyan saat itu
berbeda dengan sekarang maksimal disuruh
dorong ayunan teman.
Dan setelah itu aku
melanjutkan ke MI PSM Tanen, masih disamping sekolah lamaku, yang kuingat
hanyalah kenakalanku, rambut pirang, tidak pernah belajar, suka nyontek, suka
membohongi guru, orang tua, dan aku siswi yang paling tidak bisa dan saat itu
peringkat yang pernah aku dapat maksimal adalah peringkat delapan, entah pada
saat aku tidak ingin apapun dan yang aku inginkan hanyalah kesenangan dan
bermain hal itu terjadi sampai aku kelas lima, hingga ada hal yang memotivasiku untuk belajar dan
mengejar ketertinggalanku dulu. Pada waktu aku kelas lima aku mendapatkan
peringkat lima, disepanjang sejarah inilah peringkat kelas tertinggi yang aku
dapat, dan aku terus berusaha dan belajar hingga akhirnya pada kelas enam aku
bisa mendapatkan peringkat tiga, senang sekali, namun hasil UN ku tidak
memuaskan padahal aku sudah berusaha keras. Melihat nilaiku yang sedikit harus
kuurungkan niat untuk melanjutkan ke SMP favoritku. Sedih ? iya sedih banget,
masih belum bisa move on dari sekolah
lamaku dan harus melanjutkan ke SMP pilihan ibuku.
Setelah itu aku melanjutkan ke MTS PSM Tanen yang masih satu
yayasan dengan sekolah-sekolahku dahulu. Dari sinilah aku memulai membuka
lembaran baru dan bertekad untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Pada semester
pertama sikapku masih tidak berbeda dengan sikapku di madrasah ibtidaiyah,
masih suka main-main dan pada semester ini aku mampu menduduki peringkat
delapan, timbul rasa tidak puas dan adanya dorongan untuk memperbaiki kualitas
diri dan dari situ aku belajar dan belajar lebih keras lagi sehingga pada
semester dua aku bisa meraih peringkat empat, seneng banget.
Mulai saat itu aku terus belajar dan aku bisa aktif dalam segala
kegiatan, mengikuti pramuka baik tingkat ranting, kabupaten, maupun provinsi
selain pramuka aku juga aktif dalam organisasi intra sekolah (OSIS) aku
menjabat sebagai seksi kepribadian dan budi pekerti luhur meskipun hanya sebagai
pengurus biasa namun aku ikut berperan
aktif dalam kegiatan tersebut dan menurut penilaian guru – guru, program kerja
kami adalah program kerja paling bagus diantara kepengurusan-kepengurusan
sebelumnya. Dan selain itu aku juga
aktif di ekstrakulkuler PMR ( palang merah remaja ), meskipun hanya selalu menjadi
korban yang ditangani, di ekstra PMR ini
kelompokku pernah menjuarai lomba P3K ( pertolongan pertama pada kecalakaan
) saat itu kami berhasil mendapatkan
juara tiga sekabupaten. Aku juga pernah mengikuti lomba kaligrafi dan
mendapatkan juara tiga tingkat sekolah, pada waktu aku kelas tiga aku juga
mengikuti lomba karikatur dan saat itu aku berhasil mendapatkan juara dua
tingkat kabupaten, dan aku juga ditunjuk oleh bapak-ibu guru untuk mewakili
sekolah dengan dua teman lainya untuk mengikuti lomba FESKORA ( festival kesenian
dan olah raga ) PSM tingkat nasional pada saat itu aku kebagian defisi cerdas
cermat, meskipun kami tidak lolos dibabak akhir, namun kami berhasil membawa
pulang juara harapan dua.
Hal itu membuatku lebih semangat lagi untuk belajar dan meningkatkan
prestasi, dan pada semester dua kelas delapan aku bisa mendapatkan peringkat
dua paralel atau peringkat dua dari seluruh murid yang ada disekolahku saat
itu. Pada kelas sembilanlah mulai muncul
hawa-hawa nakal kembali, entah apa yang membuatku seperti itu namun aku merasa
dikelas sembilan ini adalah masa-masa paling sulitku di Madrasah Tsanawiyah. Teman
–teman yang memotivasiku dan memberikan dorongan selama ini tidak sekelas lagi,
selain karena hal itu sikap mereka juga mendadak berubah kepadaku, aku merasa sikap mereka yang berubah mungkin
karena nilaiku yang tiba-tiba meningkat, awalnya sakit banget, semangat
belajarku menurun drastis, dan aku mulai merasa takut dengan kualitas belajarku
yang semakin-lama semakin menurun. Aku
mulai bangkit dan berlari untuk mengejar ketertinggalanku kemarin. Dan pada
semester akhir aku tidak menyangka kalau aku bisa mendapatkan peringkat satu
paralel, senang sekali selain itu yang membuatku ingin menangis adalah aku
mampu membuat orang tuaku menangis bahagia karena prestasi yang aku peroleh.
Lulus dengan nilai memuaskan membuatku percaya diri untuk mendaftar
ke SMA favorit pilihanku, saat itu aku memilih MAN Insan Cendekia Serpong
sebagai pilihan utamaku dan MAN Insan Cendekia Jambi sebagai pilihan keduaku.
Aku yakin kalau bakalan diterima melihat pengalaman kakak kelas yang sudah
berhasil, namun tuhan berkata lain pada batas waktu pengumpulan yang sudah
ditentukan aku lupa mencantumkan foto dan keliru mengirim alamat otomatis aku
sudah didiskualifikasi. Sakit banget, tapi aku tidak berhenti sampai disini aku
berencana untuk melanjutkan ke pondok, namun ibu aku menawarkan untuk
melanjutkan ke MAN 3 Tulungagung yang
letaknya dekat dengan rumahku, tidak ada pilihan lain dan akhirnya aku
mendaftar dan aku memilih untuk mengikuti kelas program dua tahun atau biasa
disebut kelas akselerasi, awalnya hanya coba-coba dan akhirnya aku diterima
dikelas tersebut.
Tidak banyak pengalaman yang aku dapat dari masa putih abu-abu,
karena apa ? karena pada masa ini tidak banyak waktu kosong kami yang bisa
digunakan untuk suatu hal yang tidak ada hubunganya dengan akademik. Jadi
hari-hariku habiskan waktu dikelas bersama 14 anak lainya, berangkat pagi
pulang sudah sore, kalau ada tugas digunakan untuk mengerjain tugas, dan waktu
malam hari digunakan untuk mempersiapkan materi besok. Di MAN aku hanya
mengikuti ekstrakulikuler qiro’ah, berbeda sekali dengan masa-masa MTs yang
begitu aktif di berbagai kegiatan dan perlombaan. Dan perlombaan yang aku ikuti
di MAN hanyalah perlombaan yang semuanya masih tergolong akademik. Karena
jurusanku dahulu MIPA jadi aku sering mengikuti perlombaan atau olimpiade yang
berhubungan dengan MIPA, seperti olimpiade fisika, kimia tingkat kabupaten dan
nasiona dan aku juga pernah mengikuti olimpiade bahasa arab dan pidato bahasa
arab.
Rasa penat dan lelah pasti ada, pada semester pertengahan timbul
rasa ingin keluar dari kelas ini dan pindah di kelas regular, setelah
difikir-fikir kasihan juga orang tuaku kalau aku harus pindah di kelas regular,
saat itu juga aku kembali menata niat dan tekad, menyusun tujuanku yang pernah
aku impikan dahulu. Dan aku bersyukur sekali bisa bertahan sampai UN. Maklum
anak SMA yang mau lulus pasti pada bingung dengan kampus yang akan menjadi
tujuan menuntut ilmu selanjutnya, begitupun dengan ku.
Pada awalnya
aku memilih teknik sipil Intitus Teknologi Surabaya (ITS) karena sesuai jurusanku
dan aku juga suka merancang, menggambar dan membangun karena pada saat itu
sering tugas rumahnya membuat miniature bangunan baik itu rumah, jembatan,
maupun tempat-tempat umum lainya yang mana dalam proses pengerjaanya
menggunakan teori dan rumus fisika ataupun matematika, karena itu aku ingin
melanjutkan di jurusan teknik sipil. Tuhan berkata lain, orang tuaku tidak mengizinkan
hingga pada waktu pendaftaran SNMPTN aku mendaftar di Universitas Jember (UNEJ)
dengan jurusan Agribisnis, aku memilih pertanian karena pada saat itu aku berfikir
masuk teknik tidak diizinkan sama orang tua, kalau aku masuk pertanian pasti boleh.
Pada saat itu aku berfikir buah yang
jatuh tidak jauh dari pohonya, bapakku seorang petani jadi kalau anaknya juga
petani maka harus menjadi seorang petani yang sukses dan hebat, mampu mensejahterakan
masyarakat disekitarnya, dan pastinya menjadi seorang petani yang intelektual.
aku masih belum lolos di
jalur ini, dan aku mencoba daftar kembali di SPAN-PTKIN dengan jurusan
perbankan syariah UIN Malang dan perbankan syariah IAIN Tulungagung, dan aku
lolos di IAINnya, tetapi tidak aku ambil , dan aku mengikuti SBMPTN ( seleksi
bersama masuk perguruan tinggi negeri) dan aku memilih jurusan administrasi
negara UNAIR sebagai pilihan pertamaku dan ekonomi islam pilihan keduaku, dan biologi
UIN Malang, namun aku masih belum lolos. Hampir aku merasa putus asa, karena
dijalur SPAN tidak aku ambil maka aku daftar kembali di jalur mandiri, awalnya
aku ingin daftar SBMPTBR UNEJ namun karena waktu yang terlalu mepet akhirnya tidak
jadi , dan aku daftar di jalur mandiri UNS semua sudah lengkap karena satu
kendala foto yang tidak muat akhirnya diundur dan tidak jadi, setelah itu aku
ada rencana di UM namun setelah melihat biaya mahasiswa mandiri disana yang
begitu mahal, akhirnya tidak jadi. Pada akhirnya aku disaranin guru dan
teman-teman buat daftar di UIN , dan akhirnya aku mendaftar di UIN dengan pilihan pertama Al-akhwal Al-syaksiah
dan yang kedua akuntansi, dan hukum tata negara, tidak lupa buat berjaga-jaga aku juga daftar ujian mandiri di
IAIN Tulungagung jurusan Perbankan syariah dan Akuntansi . karena tes di IAIN
Tulungagung dan pengumumanya jauh dari UIN Malang , karena aku diterimadi UIN
Malang jadi aku tidak jadi tes di IAIN. Aku keterima di pilihan pertamaku yaitu
al-akhwal as-syahsiah
Kronologi
diterimanya aku di UIN Malang, hari itu hari dimana pengumuman hasil tes
mandiri UIN Malang, sebenarnya dari jam tiga ada sms dan di sosial media dari
facebook sampai whatsapp pada ngucapin selamat, aku tidak tahu maksutnya,
karena setahu aku pengumuman masih jam lima sore, setelah jam lima aku pergi
kewarnet dengan perasaan yang datar-datar saja karena jika tidak diterima hal
itu sudah biasa, dan ternyata aku lolos dipilihan pertamaku, dan pulang aku
langsung teriak dan terharu “ ibuk aku diterima” kataku. “alhamdzulillah,
jurusan apa “ tanya ibuku. “ Al-akhwal apa gitu ,aku lupa “ jawabku . Jujur
saat itu aku benar-benar tidak tahu jurusan apa itu dan akhirnya aku balik
kewarnet lagi untuk mencari tahu apa itu jurusan al-akhwal al-syakhsiyah.
Singkat
cerita dan aku masuk UIN, jujur pertama masih kaget degan suasana UIN apalagi
di ma’hadnya karena sebelumnya tidak pernah tinggal dipesantren, pada awalnya
banyak UKM yang ingin aku ikuti, namun setelah aku pilih-pilih dan konsultasi
dengan kakak tingkat dan orang tua utamanya, akhirnya aku memilih HTQ (Haiah Tahfidzil
Quran), sebenarnya aku sudah tidak ingin mengikuti kegiatan lain dikampus,
namun saat itu ada temen aku mengajak untuk ikut LKP2M lantas aku berfikir apa
itu LKP2M, kemudian aku ingat UKM yang pernah aku minatin saat pertama kali
jadi maba, saat itu waktu OPAK U di gedung SC (sport center) ada pembagian buku
dari pihak LKP2M namun saat itu tidak kebagian sangking aku penasaran akhirnya
aku memberanikan diri untuk pergi ke UKM dan minta buku disana dan sedikit
bertanya-tanya.
Tujuanku
utamaku di LKP2M yaitu belajar dan untuk
kedepanya aku ingin menjadi seperti apa yang sudah aku tuliskan di mind map
waktu diklat kemarin, dan aku akan berjalan mengikuti waktu begitu saja entah
apa rencana dan yang akan aku lakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar